Seni Berkeluh Kesah

April 13, 2007 oleh heriinside

Pernah merasa jengkel dengan keluh-kesah seorang teman? Ya, beberapa orang teman punya kecenderungan sering berkeluh kesah tentang berbagai hal. Rasanya hidup ini jauh dari indah.

Kalau Anda penggemar film kartun SpongeBob SquarePants, tentu Anda mengenal betul karakter Squidward yang selalu merasa muram. Ketika nonton kartun tersebut boleh jadi kita menertawakan perilaku Squidward. Nah, jangan-jangan kita pun secara tak sadar berperilaku seperti dia. Kapan itu? Ya, kalau kita punya hobi berkeluh-kesah.

Berkeluh-kesah itu penting bagi kesehatan mental seseorang. Itu ibarat lubang angin dari sebuah kamar yang sumpek tertutup rapat karena jendelanya macet tidak bisa dibuka. Dengan lubang angin itu tentu ada sedikit kelegaan, walau tentu saja bukan merupakan solusi final.

Namun tahukah Anda bahwa tidak seorang pun di dunia ini yang menyukai keluh-kesah Anda, kecuali diri Anda sendiri? Mendengarkan keluh-kesah adalah sebuah perjuangan berat bagi kebanyakan orang. Itu dikarenakan melalui keluh-kesah sebenarnya seseorang menularkan energi negatif kepada orang lain. Mendengarkan keluh-kesah, dan juga asyik menimpalinya, sebenarnya membuat ‘mood’ seseorang ikut menjadi negatif. Kalau berkeluh-kesah itu ibarat –maaf- buang angin yang bisa melegakan perut mules, maka mendengarkan keluh-kesah ibarat mendapat hadiah ‘buang angin’ tersebut. Kalau sedikit sih, nggak apa-apa. Kalau banyak? Kitanya yang jadi sakit perut.

Menyadari bahwa sebenarnya tidak ada orang lain yang menyukai keluh-kesah, saya belajar untuk mengurangi berkeluh-kesah. Alasannya sederhana, biasanya orang yang kita keluh-kesahi itu sebenarnya tidak banyak bisa membantu. Paling-paling dia ikut mengiyakan.

Lalu bagaimana kiat berkeluh kesah yang benar? Ada prinsip sederhana yang selalu saya ingat :

Kita ‘berkeluh-kesah’ hanya kepada Tuhan.
Kita cukup ‘bercerita’ kepada manusia lain, sebagai bagian mencari wujud pertolongan Tuhan.

Contoh berkeluh kesah : “Tuhan, mengapa aku belum juga mendapat jodoh, mengapa hidupku masih susah padahal aku bekerja keras, mengapa temanku mengkhianati aku, mengapa aku sakit, mengapa aku tidak juga naik karirnya, mengapa hutangku banyak dan tidak juga lunas, mengapa rumahku kebanjiran, mengapa wajahku tidak cantik, mengapa aku bukan anak orang kaya, …dsb.” Semua uneg-uneg dalam hati ini sah-sah saja, bahkan benar, untuk ditumpahkan langsung kepada Tuhan (dan salah kalau dikeluhkan kepada manusia). Tumpahkan semua emosi saat berkeluh-kesah. Adukanlah semua masalah kehidupan yang menyesakkan dada. Menangislah. Mudah-mudahan dengan mengadu itu hati menjadi lebih lega.

Contoh bercerita : “Aku punya masalah nih, hutangku kepada si Anu tidak juga lunas. Sebaiknya apa tindakan yang perlu kuambil?” Dalam hal ini kita tidak berkeluh-kesah, tapi hanya bercerita sebagai bagian pengantar mencari solusi. Ketika kita sudah mengadu kepada Tuhan, ketika sudah kita tumpahkan segala kekecewaan, kebencian, kemarahan, dan kesedihan kepada Tuhan, maka kita bisa bercerita kepada manusia lain dengan emosi yang lebih terkendali.

Persoalan kehidupan ini banyak yang sulit. Siapakah yang tak akan bosan mendengarkan keluhan kita? Ya tentu saja Tuhan. Siapakah yang sesungguhnya punya solusi atas masalah kita yang rumit dan menyesakkan itu? Ya tentu saja Allah, Tuhan kita.

Lalu bagaimana Allah akan menolong? Jalan yang paling sering adalah melalui kesempatan yang terbuka dan pertolongan manusia lain. Jadi, ketika kita ‘berkeluh-kesah’ kepada orang lain, carilah orang yang kira-kira memang bisa membantu. Hindari berkeluh-kesah ke semua orang karena biasanya lebih banyak ruginya dibandingkan untungnya. Berkeluh-kesah kepada sembarang orang seringkali berakhir dengan kehinaan diri sendiri karena aib yeng terbuka kepada banyak orang.

Bila kita menyadari bahwa ‘berkeluh-kesah’ ke orang lain hanya ditujukan untuk mencari solusi, maka tentu kita akan pilih-pilih kepada siapa kita akan menceritakan persoalan kita. Tentu saja hanya kepada orang-orang yang kita yakini akan menjaga nama baik kita, dan berpotensi memberikan bantuan yang kita butuhkan (sebagai wujud pertolongan yang kita pinta dari Tuhan). Itupun kita sampaikan dalam bentuk ‘bercerita’ bukan berkeluh-kesah.

Jika kita membatasi diri cukup ‘bercerita’ saja kepada manusia, dan senantiasa mengadu hanya kepada Tuhan, maka insya Allah akan terpelihara kemuliaan diri ini dari kehinaan dalam pandangan manusia.

sumber : http://sepia.blogsome.com/2007/03/08/seni-berkeluh-kesah/#more-167

Menghargai Diri Sendiri

April 13, 2007 oleh heriinside

Salah satu hal yang membantu kita menerima diri sendiri adalah dengan menghargai diri sendiri. Pandangan jelek terhadap diri sendiri, baik beralasan maupun tidak, sedikit banyak akan tercermin dalam sikap terhadap orang-orang disekitar kita. Misalnya, jika kita merasa tersiksa karena kita merasakan suatu kekurangan, rasa penyesalan itu akan tertumpuk dalam hati kita, yang kemudian tersalurkan dalam bentuk sikap permusuhan terhadap dunia luar. Sebaliknya jika kita belajar untuk menghargai dan bersikap ramah pada diri sendiri, maka sedikit banyak akan bisa menambah cinta kita kepada orang lain.

Bila kita tak sanggup memecahkan persoalan-persoalan kita diri sendiri, kita mulai membenci oranglain. Hasilnya adalah bisa dikatakan sebagai lingkaran setan yang akan menghancurkan diri sendiri, yaitu : “BENCI DIRI SENDIRI, BENCI ORANG LAIN, AKIBATNYA DIBENCI JUGA OLEH ORANG LAIN”, nah lo berat deh kalo udah seperti ini, kabur aja hidup dihutan yang tidak ada manusianya. Tapi kalo dihutan tidak ramah juga dengan para penghuni asli disana, ya siap-siap aja diterkam si raja hutan ato yang lainya kekekeke…

Bentuk-bentuk dari sikap menghargai diri sendiri adalah dengan menjauhkan diri dari tindakan-tindakan tercela, seperti : Berjudi, madat, maling, provokator dsb… Sedangkan sikap-sikap seperti : konsisten, tanggung jawab dan menghargai waktu, termasuk wujud dari sikap menghargai diri sendiri (nah ini nih yang gampang-gampang susah kekekekeke….)

Mengembangkan harga diri berarti mengembangkan keyakinan bahwa seseorang (kita) mampu hidup dan patut berbahagia dalam menghadapi kehidupan dengan penuh keyakinan, kebajikan dan optimisme, yang akan membantu kita mencapai tujuan. Dengan mengembangkan harga diri berarti kita memperluas kapasitas untuk mencapai kebahagiaan. Semakin kokoh harga diri maka orang (kita) akan semakin kreatif, semakin hormat dan bijak dalam memperlakukan orang lain, karena tidak memandang oranglain sebagai ancaman.

Salah satu penghalang seseorang untuk menghargai diri sendiri adalah rasa rendah diri, yang dapat dimengerti sebagai suatu sikap negatif memandang diri sendiri rendah. Orang yang rendah diri senantiasa dikejar-kejar oleh kekurangan-kekurangan yang menghantui, baik kekurangan itu sungguh-sungguh ada atoupun hanya karena dibayangkan oleh diri kita sendiri.

Kalau ga salah, orang-orang pinter pada ngomong begini, “Biasanya untuk menghindari ato mengurangi rasa rendah diri, seseorang bisa menempuh dua, cara negatif dan positif.
CARA-CARA NEGATIF
1. Membangun mekanisme pertahanan. Dalam kehidupan sehari-hari bisa dikatakan dengan mencari perlindungan. Ia bicara besar, berlagak hebat, mengada-ada, membual tentang prestasi-prestasinya dalam banyak bidang, menunjukan sikap berlebih-lebihan pada saat-saat yang tidak tepat.
2. Mengundurkan diri dari lingkungan. Si penderita “Minder” itu bersembunyi, sambil berkhayal tentang kehebatan dirinya yang tak pernah terjadi, ia melamun tapi tidak berbuat sesuatu apapun. Ketika tersadar dari lamunannya dia akan kecewa karena lamunannya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. orang model begini tidak mau bergaul dengan orang lain, ia mau orang lain menganggap bahwa dirinya itu paling unggul.

CARA-CARA POSITIF
1. Langsung bertindak mengatasi kekurangan. Rasa rendah diri memang dapat menjadi pembunuh kejam, tapi dilain pihak rasa rendah diri dapat juga menjadi sumber semangat yang luar biasa, yang bisa mengubah seekor kucing menjadi seekor harimau… Nah lo, buat kita semua aja ayo cepet-cepet bangun, sadar, buat langkah kecil pertama untuk melakukan perubahan kekekeke…
2. Subtitusi (tindakan pengganti). Kekurangan dalam satu bidang bisa juga diatasi dengan MEMUPUK KELEBIHAN DIBIDANG LAIN. Seseorang yang lemah jasmaninya bisa memupuk kelebihan dengan mengembangkan daya rohaninya.
3. Mau menerima kekurangan-kekurangan dan batas-batas kemampuan kita (bukan berarti kita menyerah pasrah lho kekeke…)
4. Tuhan menciptakan tiap-tiap manusia dengan selalu memberi keistimewaan tertentu.
5. Mencatat dan mengingat-ingat sukses yang pernah dicapai.

“Belajar untuk bersikap ramah terhadap diri sendiri adalah penting, karena hanya dengan itu kita bisa menambah perhatian kita kepada orang lain. hubungan yang baik dengan orang lain hanya bisa tercapai kalau hubungan kita dengan diri sendiri berlangsung baik”. Busyeeeeeeeet…gampang sekali, tapi akan sulit melakukanya kalo kita ga pernah ada kemauan untuk mencobanya kekekekeke….

Sukses buat kita semua….

Bahayanya menolak diri sendiri

April 11, 2007 oleh heriinside

Penolakan terhadap diri sendiri banyak bersumber dari kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Akibatnya, seseorang dalam banyak hal menyembunyikan dirinya yang sebenarnya dibalik penampilanya yang semu. Tidak jujur pada diri sendiri, menyembunyikan kegagalan, mencari-cari alasan diluar dirinya, berupaya dengan banyak cara biar bisa menjadi pusat perhatian dan sebagainya, itu adalah sebagian bentuk dari penolakan diri sendiri. Nah lo… ada ga tuh semua kriteria itu dalam diri kita…hehehehehe…

*Pengertian Menolak Diri*
Sebenarnya apa sih pengertian dari “Menolak Diri”??? Pada waktu kita bercermin tentunya akan terlihat bayangan tubuh kita (ga mungkin dong terlihat gambar monyet hehehehe…). Ketika bercermin, kemungkinan kita akan berlama-lama didepan cermin itu, apalagi jika sudah melihat bagian-bagian tubuh yang mempunyai kelebihan, tapi tidak akan berlama-lama jika melihat bagian-bagian tubuh yang dirasa kurang memuaskan akan membuat kecewa.

Nah tanpa terasa sikap kita yang membeda-bedakan bagian tubuh yang memiliki kelebihan dan bagian tubuh yang memiliki kekurangan merupakan suatu sikap menolak diri. Jadi simpelnya mungkin menolak diri dapat diungkapkan seperti ini :
- Tidak mau menerima kenyataan diri sendiri
- Tidak jujur pada diri sendiri
- Menyembunyikan kegagalan
- Mencari-cari alasan diluar diri sendiri
- Ingin menjadi pusat perhatian
- Membanggakan prestasi orang lain
- Melempar kesalahan
- Membenci diri sendiri
Nah lo…ada ga tuh sifat diatas pada diri kita kekekeke…

*Ciri-ciri orang menolak diri*
Menurut Andrew Matthew (orang besar neh, dan yang jelas bukan tetanggaku hehehehehe…) dalam bukunya “Being Happy Teeneger” mengatakan begini : Orang yang menolak diri sendiri menerapkan salah satu dari dua strategi seperti berikut :
- Sering mengeritik orang lain. Orang seperti ini akan berpikir bahwa dengan mengeritik orang lain, dia merasa lebih baik terhadap dirinya sendiri. Terkadang dia tidak menyadari mengapa melakukanya. Oleh karena itu tetep berpikir positif terhadap kritikan , jangan terlalu dimasukan kehati, karena kemungkinan yang mengeritik itu merasa iri hati ke kita kekekeke…
- Sering mengeritik diri sendiri. Orang seperti ini akan berpikir bahwa dengan mengeritik diri sendiri, orang lain akan membalas dengan memujinya, dan itulah yang dia harapkan. Examplenya begini: “Mary tidak menyukai dirinya. Dia berkata kepada temannya “Kau lebih cantik dariku, lebih pintar, tidak ada yang menyukaiku”. Dalam hatinya dia berharap agar temanya kembali menjawab “Tidak mary! kau pintar, kau cantik, banyak yang menyukaimu”. Nah kira-kira kita semua akan tahu akibat apa yang terjadi bila jawaban temanya itu tidak muncul?

“Ketika kita tidak menyukai diri sendiri, kita menjengkelkan orang lain, sementara kita sendiri juga merasa tertekan”. Nah looo… Namun sebaliknya, jika kita menerima diri sendiri, tentunya kita akan merasa lebih baik hehehehe….”

banyak sekali akibat dari sikap menolak diri sendiri, diantaranya adalah :
- Putus asa. Hal ini disebabkan karena kita selalu menghakimi diri sendiri bahwa kita kurang beruntung, jelek, gagal, bernasib buruk, kita selalu merasa bahwa kita tidak memiliki kemungkinan untuk bernasib baik dll…
- Kecewa dengan diri sendiri. Hal ini karena kita sering membanding-bandingkan kelemahan-kelemahan kita dengan kelebihan-kelebihan orang lain, sehingga kita kurang bersyukur atas apa yang sudah kita miliki dalam diri kita.
- Bunuh diri (busyeeeeeeeeeeeettttttttttt). Hal ini dikarenakan kita tidak memberi kesempatan pada diri sendiri untuk berkembang mencapai hasil yang maksimal dalam setiap usaha kita, sehingga yang ada hanyalah rasa putus asa dan kita mencari jalan pintas untuk mengahiri hidup karena merasa tidak bisa memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. walah walah walahhhhh….

Setelah melihat akibat bila kita menolak dari menolak diri sendiri dan membandingkan apa manfaatnya kalau menerima diri sendiri, sekarang mari kita periksa batin kita masing-masing. Sudahkah kita bisa menerima diri apa adanya atau belum???

“Kita harus melakukan sesuatu untuk hidup kita, karena kita sendirilah yang dapat mengubah hidup kita, bukan orang lain”

Wuih sebuah tulisan yang bagus bersumber dari buku Character Building I : Relasi Dengan Diri Sendiri, karya Antonius Atosokhi Gea S.Th. MM, Antonia Panca Yuni Wulandari S.Sos., Drs Yohanes Babari.

Sukses buat kita semua….

EMOSI YANG CERDAS

April 7, 2007 oleh heriinside

Busyet ternyata emosi juga harus cerdas neh kekekekeke… Apa sih sebenarnya emosi yang cerdas…???
Ternyata neh ada banyak sekali definisi tentang kecerdasan emosional, nah lo… Yang jelas kecerdasan emosional mengandung 2 kata yang luar biasa, “Cerdas dan Emosi”. Nah tau ga, ternyata 2 kata inilah yang mendorong riset puluhan tahun bidang “Neuroscience” (ilmu tentang syaraf) yang menyimpulkan begini : Intinya, kemampuan berpikir kita mempengaruhi emosi kita, demikian juga sebaliknya, emosi kitapun mempengaruhi kualitas berpikir kita. Jadi Simpelnya begini, “Kita cerdas secara emosional jika nalar kita sanggup mengarahkan ekspresi emosi kita”, nah lo…kekekeke…
Contohnya begini! Ada seorang tua menangkap seorang pencuri jemuran dirumahnya. Lalu orang tua itu mengejarnya dan ahirnya ketangkap juga (bekas atlit marathon neh orang tuanya kekekeke…). Nah dalam situsi seperti ini sebenarnya si orang tua ini bisa saja memaki atau menghajar pencuri itu sampai klenger (ternyata si tua ini bekas atlit taekwondo juga neh kekeke…), namun si tua ini bisa mengendalikan emosi dengan nalarnya. Dengan tegas situa ini menghardik pencuri jemuran itu, “Aduhhh..saya tidak suka kamu mengambil sesuatu yang bukan milikmu, nista sekali tau. Sekarang mana baju kau curi itu!! Lalu si malingpun menyerahkan kembali baju yang ia curi… Lalu si orang tua itu berkata lagi, “Ini uang untuk kamu buat beli baju, berjanjilah kamu ga akan mengulanginya lagi, mencuri baju!!!.
Nah disini kita liat si orang tua telah menunjukan bagaimana nalarnya sanggup menggerakan emosinya kepada pencuri itu secara positif. Kira-kira kita semua tau hasil dari apa yang orang tua tadi contohkan. mungkin saja setelah itu si pencuri benar-benar tobat ga nyuri lagi, dan berusaha mencari pekerjaan yang halal… Masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan positif yang mungkin terjadi pada si pencuri. (Untung aja ga kepergok warga, wahhhh…bisa death tuh pencuri kekekekeke….)
kekekekeke…kebanyakan dari kita (termasuk saya juga neh) kadang masih diperbudak oleh emosi-emosi yang menghasilkan tindakan destruktif, karena selama ini kita membiarkan diri kita dikendalikan oleh emosi. Bila kita memakai nalar kita untuk mengarahkan emosi kita, tentunya kitalah yang akan mengendalikan emosi kita, dan bukan sebaliknya.
So… Mulai sekarang mulailah kita belajar mengendalikan emosi kita, kita arahkan emosi kita dengan daya nalar kita, sehingga emosi itu bisa kita manfaatkan menjadi sumberdaya yang bermanfaat… kekekekeke…
Emang ga mudah sih, tapi kalo kita berusaha sedikit demi sedikit, dan kita jadikan sebagai kebiasaan setiap hari… wahhhh tentunya berhasil, minimal kita tidak selalu diperbudak oleh emosi-emosi yang kadang mematikan diri kita sendiri kekekekeke…

Salam sukses…